Malam Ketika Saya Ingin Berdiskusi dengan Seorang Alim



Malam ini ada satu keinginan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran saya.


Saya ingin bertemu seorang alim.


Bukan untuk meminta nasihat.


Bukan pula untuk menunjukkan bahwa saya lebih tahu.


Saya hanya ingin duduk berdua dengannya.


Tanpa banyak orang.


Tanpa mikrofon.


Tanpa kamera.


Tanpa jabatan.


Saya ingin berbicara sebagai manusia dengan manusia.


Saya ingin bertanya tentang pemerintah.


Tentang janji-janji yang pernah disampaikan kepada masyarakat.


Tentang rencana program kerja yang terdengar baik ketika dibicarakan, tetapi kadang berbeda ketika berhadapan dengan kenyataan.


Saya ingin bertanya:


“Bagaimana seharusnya seorang manusia melihat kekuasaan?”


Apakah kekuasaan adalah kesempatan untuk mengubah keadaan?


Ataukah justru ujian paling berat bagi hati manusia?


Saya ingin mendengar jawabannya tanpa debat.


Karena terkadang orang tidak membutuhkan lawan bicara.


Ia hanya membutuhkan seseorang yang cukup tenang untuk mendengarkan pikirannya sampai selesai.


Setelah berbicara tentang pemerintahan, mungkin pembicaraan akan menjadi lebih pribadi.


Saya akan bertanya tentang keluarganya.


Bagaimana ia menjaga rumah tangga ketika pikirannya dipenuhi persoalan banyak orang?


Bagaimana ia menghadapi perbedaan pendapat di dalam keluarga?


Bagaimana seseorang bisa berbicara keras kepada dunia, tetapi tetap lembut kepada orang yang dicintainya?


Mungkin dari sana saya akan belajar sesuatu:


komunikasi yang paling sulit bukan berbicara kepada banyak orang, tetapi berbicara kepada orang yang paling dekat dengan kita.


Sebab kepada orang jauh kita bisa menjaga kata-kata.


Kepada keluarga, ego sering kali ikut berbicara.


Kemudian saya ingin membawa percakapan ke tempat yang lebih dalam.


Tentang ibadah.


Saya mungkin akan berkata:


«“Saya sebenarnya sudah pernah belajar apa yang harus dikerjakan. Saya tahu kewajiban. Saya tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Tetapi mengapa menjalankannya tetap terasa sulit?”»


Mungkin ia tidak langsung menjawab.


Mungkin ia hanya diam sebentar.


Karena ada pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban cepat.


Lalu mungkin ia berkata:


«“Mengetahui jalan dan berjalan di jalan itu adalah dua perkara yang berbeda.”»


Kalimat itu sederhana.


Tetapi mungkin justru di situlah masalah saya.


Saya terlalu banyak mengetahui, tetapi terlalu sedikit melakukan.


Saya mengetahui tentang Tuhan, tetapi hati saya sering sibuk dengan dunia.


Saya tahu tentang waktu, tetapi sering menunda.


Saya tahu tentang kematian, tetapi masih hidup seolah-olah umur tidak mempunyai batas.


Saya tahu ibadah adalah kebutuhan jiwa, tetapi sering memperlakukannya seperti pekerjaan yang harus diselesaikan.


Lalu pembicaraan mungkin masuk ke psikologi.


Saya ingin bertanya:


“Apakah manusia sebenarnya malas beribadah, atau sedang berperang dengan dirinya sendiri?”


Mungkin jawabannya tidak sesederhana malas.


Ada kebiasaan.


Ada lingkungan.


Ada pikiran yang terlalu penuh.


Ada luka yang belum selesai.


Ada keinginan yang sulit dikendalikan.


Ada rasa bersalah yang justru membuat seseorang semakin menjauh.


Kadang manusia bukan tidak ingin kembali.


Ia hanya tidak tahu bagaimana memulai kembali tanpa merasa malu kepada dirinya sendiri.


Di sinilah komunikasi menjadi penting.


Jangan selalu berkata:


“Kamu harus berubah.”


Kadang lebih manusiawi jika bertanya:


“Apa yang membuatmu sulit berubah?”


Pertanyaan pertama bisa membuat seseorang bertahan.


Pertanyaan kedua bisa membuatnya membuka diri.


Kemudian saya ingin berbicara tentang filsafat.


Tentang manusia.


Tentang kebebasan.


Tentang pilihan.


Tentang apakah manusia benar-benar bebas menentukan hidupnya atau sebenarnya sedang dibentuk oleh keluarga, lingkungan, ekonomi, pengalaman, dan masa lalunya.


Saya ingin bertanya:


“Kalau manusia mengetahui sesuatu itu baik, mengapa ia masih memilih yang buruk?”


Mungkin karena mengetahui tidak otomatis membuat manusia mampu mengendalikan dirinya.


Akal bisa menunjukkan arah.


Tetapi keinginan sering menarik kita ke arah yang berbeda.


Maka perjuangan terbesar manusia mungkin bukan melawan orang lain.


Melainkan bernegosiasi dengan dirinya sendiri.


Dan akhirnya saya ingin belajar tentang negosiasi.


Bukan negosiasi untuk memenangkan percakapan.


Tetapi bagaimana mencari titik temu tanpa kehilangan prinsip.


Bagaimana menyampaikan keberatan tanpa merendahkan.


Bagaimana mengatakan tidak tanpa memusuhi.


Bagaimana mendengarkan tanpa harus menyetujui.


Bagaimana berbicara dengan pemerintah tanpa menjadi penjilat.


Bagaimana mengkritik tanpa menjadi pembenci.


Bagaimana mempertahankan pendirian tanpa menjadi keras kepala.


Mungkin komunikasi yang matang bukan tentang siapa yang menang.


Tetapi tentang bagaimana setelah percakapan selesai,


kedua orang masih bisa saling menghormati.


Malam semakin larut.


Saya membayangkan percakapan itu belum tentu menghasilkan jawaban atas semua persoalan.


Mungkin justru sebaliknya.


Saya pulang membawa lebih banyak pertanyaan.


Tetapi mungkin itulah fungsi sebuah pertemuan dengan orang yang berilmu.


Bukan selalu memberi kita jawaban.


Kadang ia hanya membantu kita menemukan pertanyaan yang selama ini salah kita ajukan.


Dan malam ini saya mulai berpikir:


Mungkin ibadah bukan hanya tentang mengetahui apa yang harus dilakukan.


Mungkin komunikasi bukan hanya tentang bagaimana membuat orang memahami kita.


Mungkin kehidupan bukan tentang bagaimana memenangkan semua perdebatan.


Barangkali manusia hanya sedang belajar satu hal:


bagaimana berdamai dengan Tuhan, dengan manusia lain, dan akhirnya dengan dirinya sendiri.


— Nurman Hidayat


Catatan malam: tentang manusia, kekuasaan, keluarga, ibadah, dan percakapan yang belum selesai.

Komentar

Postingan Populer