Percakapan Tengah Malam



Malam sudah larut.


Saya duduk berhadapan dengan seorang alim. Tidak ada orang lain. Tidak ada forum. Tidak ada yang perlu dipertahankan.


Hanya dua orang yang sedang berbicara tentang kehidupan.


N:

A, boleh saya bicara terbuka malam ini?


A:

Silakan. Justru percakapan yang paling berguna kadang dimulai ketika kita berhenti takut dianggap salah.


N:

Saya sedang banyak berpikir tentang pemerintah. Tentang janji, rencana program kerja, dan bagaimana sebuah keputusan dibuat. Kadang yang direncanakan terdengar sangat baik. Tapi ketika sampai kepada masyarakat, kenyataannya tidak selalu seperti yang dibayangkan.


A:

Menurutmu, apa yang sebenarnya paling sulit dalam pemerintahan?


N:

Menjalankan program?


A:

Bukan hanya itu. Yang sulit adalah mengubah gagasan menjadi kenyataan tanpa kehilangan manusia yang menjadi tujuan dari gagasan itu.


N:

Maksud A?


A:

Sebuah program bisa terlihat bagus di atas kertas. Tetapi manusia tidak hidup di atas kertas.


Ada keadaan keluarga, ekonomi, kebiasaan masyarakat, kepentingan yang berbeda, bahkan rasa kecewa yang sudah lama tersimpan.


Karena itu pemimpin tidak cukup hanya pandai membuat program.


Ia harus mampu mendengar manusia.


N:

Berarti komunikasi lebih penting daripada sekadar menyampaikan program?


A:

Komunikasi bukan sekadar menyampaikan.


Komunikasi adalah memahami.


Kalau saya berbicara dan kamu hanya mendengar kata-kata saya, itu baru mendengar.


Tetapi kalau saya berusaha memahami apa yang membuatmu berkata demikian, di situlah komunikasi mulai terjadi.


---


N:

Kalau begitu, bagaimana dengan janji?


A:

Janji itu bukan sekadar kalimat.


Janji menciptakan harapan.


Dan harapan yang diberikan kepada manusia mempunyai konsekuensi moral.


N:

Jadi ketika janji tidak terpenuhi?


A:

Jangan langsung bertanya, “Siapa yang salah?”


Tanyakan lebih dahulu:


“Apa yang terjadi antara janji dan kenyataan?”


Ada janji yang memang tidak serius sejak awal.


Ada pula janji yang sungguh-sungguh dibuat tetapi keadaan berubah.


Keduanya harus dibedakan.


Karena menilai tanpa memahami konteks juga bisa menjadi ketidakadilan.


---


Saya diam beberapa saat.


Entah mengapa pembicaraan tentang pemerintahan perlahan membawa pikiran saya kepada keluarga.


N:

A, sebenarnya bukan hanya soal pemerintah yang saya pikirkan.


Saya juga sering gagal berkomunikasi dengan orang-orang terdekat.


Kadang dengan orang lain saya bisa berbicara tenang.


Tetapi dengan keluarga sendiri, emosi lebih mudah muncul.


A:

Karena kepada orang jauh kamu membawa kesadaran.


Kepada orang dekat, kamu sering membawa kebiasaan.


N:

Apa bedanya?


A:

Ketika berbicara dengan orang lain, kita berpikir sebelum bereaksi.


Dengan keluarga, kita sering bereaksi sebelum berpikir.


Kita merasa mereka sudah memahami kita.


Padahal justru karena terlalu dekat, kita sering berhenti menjelaskan.


N:

Jadi kedekatan bisa membuat komunikasi menjadi buruk?


A:

Bisa.


Karena kita mulai menganggap:


“Dia pasti mengerti.”


“Dia seharusnya tahu.”


“Dia kan keluarga.”


Padahal manusia tidak bisa membaca pikiran manusia lainnya.


---


Saya menarik napas panjang.


Ada satu pertanyaan yang sejak tadi ingin saya sampaikan.


N:

A...


Saya sebenarnya tahu apa yang harus saya lakukan dalam agama.


Saya pernah belajar.


Saya tahu kewajiban.


Saya tahu mana yang benar.


Tapi mengapa menjalankannya kadang begitu sulit?


A tidak langsung menjawab.


Ia diam.


Kemudian berkata pelan:


A:

Karena mengetahui jalan tidak sama dengan berjalan di jalan.


N:

Lalu masalahnya di mana?


A:

Mungkin bukan pada pengetahuanmu.


Mungkin pada hubungan antara pengetahuan dan kebiasaan.


Kita sering berharap perubahan dimulai dari perasaan.


Padahal kadang perasaan justru muncul setelah kita mulai melakukan.


N:

Jadi harus memaksa diri?


A:

Bukan memaksa dengan kebencian terhadap diri sendiri.


Tetapi melatih diri dengan kesabaran.


Kalau sekali gagal, jangan mengatakan:


“Aku memang tidak bisa.”


Katakan:


“Hari ini aku gagal. Besok aku mencoba lagi.”


Ada perbedaan besar antara merasa bersalah dan menyerah kepada rasa bersalah.


---


N:

Berarti secara psikologis manusia sering terjebak oleh pikirannya sendiri?


A:

Sering.


Manusia mempunyai kemampuan luar biasa untuk membuat alasan yang terdengar masuk akal bagi dirinya sendiri.


Kita bisa tahu sesuatu salah, tetapi membuat seribu alasan agar tetap melakukannya.


Kita bisa tahu sesuatu benar, tetapi menemukan alasan untuk menundanya.


Itulah mengapa mengenal diri sendiri menjadi penting.


N:

Bagaimana cara mengenal diri?


A:

Perhatikan dirimu ketika tidak ada yang melihat.


Di situlah banyak jawaban berada.


Bukan pada apa yang kamu katakan tentang dirimu.


Tetapi pada apa yang kamu lakukan ketika tidak membutuhkan pengakuan siapa pun.


---


Saya tersenyum kecil.


N:

A, kalau begitu filsafat sebenarnya berbicara tentang apa?


A:

Tentang pertanyaan yang sering kita hindari.


N:

Contohnya?


A:

Siapa sebenarnya dirimu?


Apa yang kamu kejar?


Mengapa kamu menginginkannya?


Kalau semua yang kamu miliki hilang, apa yang masih membuatmu merasa sebagai dirimu sendiri?


Dan yang paling sulit:


“Apakah hidupmu benar-benar kamu pilih, atau hanya mengikuti apa yang dianggap penting oleh orang lain?”


Saya kembali diam.


Pertanyaan itu terasa lebih berat daripada jawaban.


---


N:

Lalu bagaimana dengan negosiasi?


A:

Negosiasi yang matang bukan seni membuat orang kalah.


N:

Lalu?


A:

Seni menemukan ruang di mana dua kepentingan yang berbeda masih bisa bertemu tanpa membuat salah satu pihak kehilangan martabatnya.


N:

Kalau kepentingannya bertentangan?


A:

Maka cari dulu kepentingan di balik posisi.


Orang berkata:


“Saya tidak mau.”


Jangan langsung melawan.


Tanyakan:


“Apa yang membuat Anda tidak mau?”


Mungkin yang ditolak bukan tujuanmu.


Mungkin cara mencapainya.


N:

Jadi pertanyaan lebih kuat daripada tekanan?


A:

Sering kali.


Tekanan membuat orang bertahan.


Pertanyaan membuat orang berpikir.


---


Jam semakin malam.


Percakapan kami sebenarnya belum selesai.


Tetapi mungkin memang tidak harus selesai.


Sebelum pulang, saya bertanya:


N:

A, kalau semua yang kita bicarakan malam ini harus diringkas menjadi satu kalimat, apa?


A tersenyum.


A:

Belajarlah berbicara kepada manusia tanpa kehilangan hati.


Dan ketika berbicara dengan dirimu sendiri,


jangan berbohong.


Saya terdiam.


Malam itu saya pulang bukan dengan banyak jawaban.


Tetapi dengan beberapa pertanyaan baru.


Dan mungkin...


pertanyaan yang tepat adalah awal dari perubahan yang sebenarnya.


— N

Komentar

Postingan Populer